Page 5 - Miles Edisi 178
P. 5

HIGHLIGHT
kita ini banyak melakukan inovasi. Global Bond kita yang pertama,” ujar Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto
saat wawancara eksklusif dengan Majalah Miles.
Jalan tol itu, ia meneruskan, mempunyai karakter bisnis yang jangka panjang. Konsesinya bisa mencapai 40 hingga 50 tahun.
“Karena jangka panjang (berarti) high capital intensive kira-kira 1 km itu butuh Rp 100 miliar. Kalau elevated bahkan Rp 350 miliar. Di awal-awal (pengoperasian jalan
tol baru) traf c-
nya kan belum
nyambung,
belum
terutilisasi secara penuh. Maka, pasti ada namanya negative period,” ungkap pria yang akrab disapa Adri ini.
Negative period ini, kata Adri, bisa variatif, antara lima sampai 15 tahun. “Negatif dulu, impas, baru untung. Cycle-nya seperti itu. Oleh karenanya, kita butuh melakukan inovasi awalnya, walaupun memang ada risiko-risikonya yang kita sadari,” tambahnya.
Selain karakter bisnisnya
yang berjangka panjang, Adri melanjutkan, Jasa Marga memiliki banyak anak perusahaan yang sebagian besar berdiri seiring pembangunan suatu jalan tol.
“Kita tak bisa tunda dengan karakteristik bisnis yang
panjang tadi. Kalau di awal-
awal semua negatif kan berarti
harus punya pendanaan yang tidak konvensional, beberapa alternatif. Makanya, butuh sesuatu yang tak konvensional (inovasi),” imbuhnya.
Terlebih, masih menurut Adri, dalam beberapa tahun
terakhir, Jasa Marga terbilang masif membangun sejumlah jalan tol. Kini, rata-rata per tahunnya, Jasa Marga mampu membangun ratusan kilometer jalan tol baru. Hal ini tentu memerlukan banyak modal yang dicari dengan skema yang bukan konvensional.
“Kita harus cari investasi yang secara rasionya juga tidak menekan ya. Bagaimana caranya agar Debt to EBITDA-nya tak terlalu besar?
Nah, come up ide diawali
dengan sekuritisasi,” paparnya.
Adri mengakui, awalnya sekuritisasi tidak berjalan mulus. Hal ini karena Jasa Marga tidak punya aset. Jasa Marga hanya mempunyai aset tak berwujud (intangible asset), yakni konsesi jalan tol.
“Kita hanya dapat mengoperasikan karena kita
yang bangun. Kita dikasih kesempatan mengoperasikan untuk mengembalikan uang yang ada kaitannya investasi yang awal yang
kita keluarkan. Makanya muncul ide future revenue base crisis. Yang kita sekuritisasi itu adalah pendapatan tol di masa yang
akan datang, bukan aset kita,” jelasnya.
Adri menyebutnya sebagai pendapatan diterima di muka. Bahasa lebih sederhananya lagi ialah pendapatan ditangguhkan. “Itulah abilities. Tapi, bukan hutang, bukan interest bearing. Nah, terjawablah solusinya, Debt to EBITDA-nya aman,” kata Adri.
MILES • EDISI 178 | 2018 5


































































































   3   4   5   6   7